Kuliah
Wednesday, January 15, 2025
Mad Thabi’i Mad Wajib Muttashil Mad Jaiz Munfashil
Monday, March 1, 2021
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hidup akan dikatakan bermakna jika setiap gerak dalam hidup kita
senantiasa bermanfaat bagi orang lain dan bagi kita sendiri. Tidak
menyia-nyiakan waktu, mampu
memaksimalkan potensi diri, mampu membedakan antara yang haq dan yang
batil, pandai mensyukuri nikmat yang diterima.
Manusia adalah makhluk yang terhebat, mempunyai keistimewaan yang
terletak pada kemampuan berfikirnya sebagai manusia yang berbudaya.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Bersosial merupakan
suatu pekejaan yang sangat penting untuk kelangsungan hidup. Manusia harus
bekerja sama dengan orang lain, saling menolong dan saling membantu. Tanpa
adanya kerja sama, kehidupan ini akan punah. Dalam firman Allah QS. Al-Maidah:
2:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ
تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوانِ
“...dan tolong-menolonglah kamu sekalian dalam hal
kebaikan dan ketakwaan, jangan kalian tolong-menolong dalam dosa dan
permusuhan...” (QS. Al-Maidah: 2)
Berbuat baik terhadap sesama adalah wujud
nyata dari kesalehan sosial, yaitu kesalehan yang menyangkut diri pribadi
dengan pribadi yang lain dalam sebuah lingkungan tertentu. Muslim yang baik
adalah mereka yang antara kesalehan ritual dan juga kesalehan sosialnya
berimbang secara proposional[1].
Akhir-akhir ini sering adanya peristiwa-peristiwa yang sangat
menyedihkan karena sudah terkikisnya rasa humanisme. Selain mudahnya terpancing
untuk melakukan tindakan kekerasan baik yang dilakukan secara perorangan maupun
secara berkelompok, saat ini juga sudah maraknya peristiwa acuh tak acuh dan
tidak peduli terhadap orang lain. Tindakan kekerasan dan tradisi tidak
mempedulikan orang lain ini merupakan cermin dari sikap arogansi, merasa paling
benar dan ketidak mampuan untuk mensinergikan berbagai perbedaan yang ada
disekitar kita.
Dari peristiwa-peristiwa yang dipaparkan diatas, salah satunya
dapat disebabkan oleh model pendidikan
yang kurang memberikan ruang bagi anak didik untuk saling menghargai dan
saling berkerja sama. Sekolah sebagai salah satu bagian dari pendidikan harus
mampu mendidik peserta didiknya agar menjadi anak yang mempunyai rasa humanis
dan mempunyai rasa perduli terhadap orang lain.
Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka
mensiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif.
Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar peserta didik, dan
gaya mengajar guru[2].
Dalam hal ini, model pembelajaran memiliki andil yang cukup besar
dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh peserta
didik dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga
tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Terdapat berbagai macam
model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi pendidik untuk
menjadikan kegiatan pembelajaran dikelas berlangsung efektif dan optimal. Salah
satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang
berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap peserta
didik anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk
memahami materi pelajaran . dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan
belum selesai jika salah satu teman
dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran[3].
Pembelajaran koomperatif juga diartikan pendekatan pembelajaran yang
berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam
memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar[4].
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, kami dapat
mengambil beberapa rumusan masalah, yakni:
1.
Bagaimana
pengertian pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)?
2.
Bagaimana
variasi/bentuk model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)?
3.
Apa
kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)?
Bagaimana implementasi pembelajaran kooperatif di dalam kelas?
C.
Tujuan Pembahasan
1.
Untuk
mengetahui pengertian dari model pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning).
2.
Untuk
mengetahui berbagai variasi/bentuk dari model pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning).
3.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning).
4. Untuk mengetahui tentang implementasi model pembelajaran kooperatif yang di terapkan di dalam kelas.
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian
sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara
sesama daalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri
dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat di pengaruhi oleh
keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Cooperative learning
dapat di artikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan
di antara sesama anggota kelompok[1].
Pembelajaran kooperatif
adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang
silih asuh (saling tenggang rasa) untuk menghindari ketersinggungan dan kesalah
pahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Hasil belajar yang diperoleh dalam
pembelajaran kooperatif tidak hanya berupa nilai-nilai moral dan budi pekerti
berupa rasa tanggung jawab pribadi, rasa saling menghargai, saling membutuhkan,
saling memberi, dan saling menghormati keberadaan orang lain disekitar kita[2].
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang
berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap peserta
didik anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk
memahami materi pelajaran. dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan
belum selesai jika salah satu teman
dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran[3].
Selanjutnya, menurut Johnson dan Johnson (Isjoni dan Ismail 2008: 152),
pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara
kelompok-kelompok kecil. Siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai kepada
pengalaman belajar yang berkelompok, sama dengan pengalaman individu maupun
kelompok.
Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran
yang aktif. Sebab, peserta didik akan lebih banyak belajar melalui proses
pembentukan dan penciptaan kerja dalam kelompok dan berbagai pengetahuan serta
tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran[4].
Dengan demikian pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
menyangkut tehnik pengelompokan yang didalamnya siswa bekerja terarah pada
tujuan belajar bersama pada kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang.
Pembelajaran kooperatif dirancang berdasarkan kesadaran bahwa manusia adalah
makhluk sosial. Karena satu sama lain saling membutuhkan, dan dalam
pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu
interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan
siswa, dan siswa dengan guru.
B.
PEMBAGIAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Model pembelajaran merupakan salah satu langkah awal yang harus
direncanakan didalam proses belajar mengajar secara keseluruhan. Menurut Arends
dalam bukunya Hurhadi, 2004: 64-67, ada 4 macam model pembelajaran kooperatif,
yaitu: STAD (Student Teams Achievement Divisions), Jigsaw, Group
Investigation, dan struktural.
1.
STAD
(Student Teams Achievement Divisions)
Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu macam pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling
memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran, guna mencapai
prestasi yang maksimal.
STAD telah
digunakan dalam berbagai mata pelajaran yang ada, mulai dari matematika,
bahasa, seni, sampai dengan ilmu sosial dan ilmu pengetahuan ilmiah lain, dan
telah digunakan mulai dari siswa kelas dua sampai perguruan tinggi. Metode ini
paling sesuai untuk mengajarkan bidang studi yang sudah terdefinisikan dengan
jelas, seperti matematika, berhitung dan studi terapan dan lain-lain[5].
Metode STAD
dikembangkan oleh Robert Slavin dan rekan-rekannya dai Universitas John Hopkins.
Metode ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana. Dalam metode ini terdiri
dari lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor
perbaikan individual, dan penghargaan tim[6].
2.
Jigsaw
Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Unversitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling mebantu dalam menguasai materi pelajaran dengan jigsaw, yakni adanya kelompok asal dan kelompok ahli dalam kegiatan belajar mengajar.
3.
GI (Group
Investigation)
Dalam metode GI ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan. Dasar-dasar metode GI ini dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh sharan dan kawan-kawannya dari Universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Pendekatan ini memiliki norma dan struktur kelas yang lebih rumit dari pendekatan yang lebih berpusat kepada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik[7].
4.
Struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer
Kagan dan kawan-kawannya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan
metode-metode lainnya, metode struktural menekankan pada struktur-struktur
khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa[8].
Metode struk
ini dibagi menjadi dua macam, yaitu NHT (Numbered Head Together) dan TPS
(Think-Pair-Share).
a.
NHT
NHT atau penomoran berfikir bersama adalah merupakan jenis
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa
sebagai alternativ terhadap struktur kelas tradisional[9]
NHT
(Numbered Head Together) dikembangkan oleh Spancer Kagan. Menurut
Nurhadi (2004: 67), langkah-langkah pada metode ini adalah:
pertama, Penomoran (Numbering),
pada langkah ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan memberi
mereka masing-masing nomor yang berbeda. Kedua, pengajuan pertanyaan (Questioning),
langkah ke dua ini guru pengajukan pertanyaan kepada para siswa. Ketiga, berfikir
bersama (Head Together), selanjutnya para siswa berfikir bersama untuk
menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban tersebut. Keempat,
Pemberian jawaban (Answering), terahir pada langkah ini guru menyebut
satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat
tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.
b.
Think-Pair-Share
(TPS)
TPS adalah sebuah metode yang sederhana, tetapi sangat berguna yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland. Ketika guru menerangkan pelajaran didepan kelas, siswa duduk berpasangan dalam kelompoknya. Guru memberikan pertanyaan dikelas. Lalu, siswa diperintahkan untuk memikirkan jawaban, kemudian siswa berpasangan dengan masing-masing pasangannya untuk mencari kesepakatan jawaban. Terakhir guru meminta siswa untuk membagi jawaban kepada seluruh siswa di kelas[10]. Dalam metode ini dapat memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk bekerja sendiri sekaligus bekerja sama dengan teman lainnya.
C.
KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Melalui model pembelajaran kooperatif ini, siswa bukan hanya
belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses pembelajaran,
melainkan juga bisa belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus mempunyai
kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Begitupula dalam model
pembelajaran kooperatif ini juga mampu merangsang dan menggugah potensi siswa
secara optimal dalam suasana belajar dalam kelompok-kelompok kecil.
Model pembelajaran kooperatif juga dapat mengembangkan kemampuan,
mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan
membandingannya dengan ide-ide orang lain. Melalui model pembelajaran
kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah
kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai
sumber, dan belajar dari siswa yang lain[11].
Menurut Johnson and Johnson dalam bukunya Nurhadi, dkk, 2004:
63-64, Pentingnya pembelajaran kooperatif diterapkan dalam situasi pembelajaran
dikelas karena memiliki keunggulan sebagai berikut:
1.
Memudahkan
siswa melakukan penyesuaian sosial
2.
Mengambangkan
kegembiraan sejati
3.
Memungkinkan
siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial,
dan pandangan
4.
Memungkinkan
terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen
5.
Meningkatkan
keterampilan meta kognitif
6.
Menghilangkan
sifat-sifat meentingkan diri sendiri atau egois dan egosentris
7.
Meningkatkan
kepekaan dan kesetiakawanan sosial
8.
Menghilangkan
siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan
9.
Menjadi
acuhan bagi perkembangan keperibadian yang sehat dan terintegrasi
10.
Membangun
persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa
11.
Mencegah
timbulnya gangguan kejiwaan
12.
Mencegah
terjadinya kenakalan diamasa remaja
13.
Menimbulkan
perilaku rasional dimasa remaja
14.
Berbagai
keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling
membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan
15.
Meningkatkan
rasa saling percaya kepada manusia
Siswa yang sudah terbiasa dan mengerti akan pentingnya pembelajaran
kooperatif, akan menyadari bahwa dirinya mempunyai kekurangan dan kelebihan.
Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai
kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau
belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan
yang positifpun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar
yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni siswa yang aktif, kreatif dan
mandiri[12].
Selanjutnya, keunggulan pembelajaran kooperatif adalah sebagai
berikut[13]:
1.
Jika
dilihat dari aspek siswa, keunggulan pembelajaran kooperatif adalah memberi
peluang kepada siswa agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan, pengalaman
yang diperoleh siswa belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah satu
pandangan kelompok.
2.
Siswa
dimungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, melatih siswa untuk
memiliki keterampilan, baik keterampilan befikir maupun keterampilan sosial,
seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan
dari orang lain, bekerja sama, rasa setia kawan, dan mengarungi timbulnya
perilaku yang menyimpang dalam kehidupan kelas, dan siswa dapat memperoleh
pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berfikir dan menentukan,
serta berbuaat dan berpartisipasi sosial.
3.
Siswa
memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar karena didorong dan dudukun dari
rekan sebaya.
4.
Siswa
menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, kemampuan berfikir kritis,
membentuk hubungan persahabatan, menimba berbagai informasi, belajar
menggunakan sopan santun, meningkatkan motivasi siswa, memperbaiki sikap
terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta
membantu siswa dalam menghargai pokok pikiran orang lain.
5.
Siswa
yang bersama-sama bekerja dalam kelompok akan menimbulkan persahabatan yang
akrab yang terbentuk dikalangan siswa. Hal ini ternyata sangat berpengaruh pada
tingkah laku atau kegiatan masing-masing secara individual. Mereka lebih banyak
mendapatkan kesempatan berbicara, inisiatif, menentukan pilihan, dan secara
umum mengembangkan kebiasaan yang baik.
6.
Saling
ketergantungan yang positif, adanya pengakuan dalam merespon perbedaan
individu, siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, suasana
kelas yang rileks dan menyenangkan, terjalinnya hubungan yang sangat dan
bersahabat antara siswa dengan guru, dan memiliki banyak kesempatan untuk
mengekpresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.
Sedangkan dari segi kekurangan model pembelajaran kooperatif
adalah:
1.
Guru
harus mempersiapkan pembelajran secara matang, disamping itu proses
pembelajaran kooperatif memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
2.
Membutuhkan
dukungan fasilitas, alat, alat dan biaya yang cukup memadai.
3.
Selama
kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan
yang dibahas meluas, dengan demikian, banyak yang tidak sesuai dengan waktu
yang ditentukan
4. Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang. Hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
D.
IMPLEMENTASI
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Implementasi atau pelaksanaan proses pembelajaran adalah proses
berlangsungnnya belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan
pendidikan disekolah. Jadi pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi guru
dengan murid dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Bisa dikatakan pelaksanaan pembelajaran adalah pelaksanaan
setrategi-setrategi yang telah dirancang untuk mencapai pembelajaran[14].
Pembelajaran
kooperatif lebih banyak di arahkan kepada perencanaan pelajar untuk
mengelompokkan dan menyampaikan kepada tutor dan anggota kelompok pelajar yang
lain atau penyempurna kegiatan. Ada dua bentuk utama pembelajaran kooperatif
yang melibatkan para pelajar dalam kerja kelompok kepada:[15]
(a) membantu teman pelajar yang lain untuk menguasai materi pelajaran, dan (b)
menyempurnakan suatu proyek kegiatan bersama seperti laporan tulisan,
presentasi, percobaan, karya seni dan lain sebagainya.
Kenyataan di
atas dapat menjadi acuan bahwa untuk tercapainya tujuan kurikulum dan tujuan
pendidikan pada umumnya maka pengelolaan kelas melalui pembelajaran yang lebih
efektif menjadi harapan utama, dan semua itu tergantung kepada guru dalam upaya
melakukan implementasi kurikulum melalui pembelajaran kooperatif.[16]
Berikut merupakan implementasi dari berbagai macam model
pembelajaran kooperatif:
·
STAD
(Student Teams Achievement Divisions)
Langkah-langkah dalam metode ini adalah:
a.
Mula-mula
bahan ajar atau materi diterangkan dulu oleh guru dikelas.
b.
Kemudian
langkah selanjutnya yaitu penysunan kelompok, yang beranggotakan kurang lebih
empat sampai lima orang yang bersifat hiterogen.
c.
Setelah
kelompok terbentuk, kemudian tiap kelompok mendiskusikan materi atau pertanyaan
yang telah terangkan oleh guru pada tahap awal lalu.
d.
Setelah
guru memberi waktu untuk mendiskusikannya, kemudian para siswa dikenai kuis
individual. Dalam hal ini siswa tidak diperbolehkan untuk membantu siswa
lainselama kuis berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu bertanggung
jawab secara individu untuk memahami materi yang diberikan.
e.
Dengan
adanya kuis tersebut, setiap siswa bisa menyumbangkan poin kepada kelompoknya
dalam sistem sekor.
f.
Selanjutnya
kelompok akan diberi penghargaan apabila skor mereka melampaui kriteria tertentu.
·
Jigsaw
Dalam model pembelajaran kooperatif
dengan metode jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok
asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli
yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus
terampil dan mengetahui latar belakang setiap siswa agar terciptanya suasana
yang baik bagi setiap anggota kelompok[17].
Langkah-langkah penerapan metode Jigsaw adalah sebagai
berikut:
a.
Guru
membagi para siswa menjadi beberapa kelompok. Dalam pembagian kelompok sama
seperti pada metode STAD. Setelah sudah membagi kelompok, guru memberti materi
atau memberi suatu pertanyaan kepada tiap kelompok.
b.
Setelah
anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mmpelajari materi atau pertanyaan
yang diberikan oleh guru, kemudian perwakilan orang dari beberapa kelompok
bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan materi yang
telah diberikan oleh guru.
c.
Selanjutnya
setelah kelompok baru (kelompok ahli) tersebut selesai diskusi, maka mereka kembali
kekelompok asal mereka masing-masing,
d.
Dan
mengajarkan atau menerangkan kepada anggotanya mengenai bahan atau materi yang
telah didiskusikan di kelompok ahli tadi.
e.
Selanjutnya
guru mengevaluasi siswa secara individu mengenai materi yang telah dipelajari.
·
GI (Group
Investigation)
Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam
berkomuikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Langkah-langkah dalam
metode ini adalah:
a.
Petama
yaitu seleksi topik.
Dalam
hal ini guru bisa terlebih dahulu membagi siswa dalam beberapa kelompok,
misalnya beranggotakan dua hingga enam orang setiap kelompok. Dan selanjutnya
tiap kelompok memilih berbagai sub topik dalam suatu masalah yang telah
digambarkan oleh guru.
b.
Setelah
sudah memilih sub topik yang telah digambarkan oleh guru, siswa dan guru
merencanakan kerja sama, tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan sub topik
yang telah mereka pilih.
c.
Para
siswa melaksanakan rencana yang telah mereka rumuskan, dan guru secara terus
menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika
diperlukan.
d.
Pada
tahap selanjutnya, siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi
yang telah diperoleh pada tahap pelaksanaan yang mereka rumuskan tadi, dan
merencanakan agar materi yang telah mereka rumuskan tadi dapat diringkas dalam
suatu penyajian yang baik.
e.
Selanjutnya,
semua kelompok menyajikan hasil akhir dalam bentuk presentasi.
f. Terakhir guru mengevaluasi siswa atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
·
Struktural
Pada metode ini dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
NHT
Langkah-langkahnya
adalah:
a)
Penomoran
(Numbering)
Langkah
pertama guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan
misalnya tiga hingga lima orang. kemudian memberi nomor yang berbeda-beda
kepada tiap siswa dalam kelompok tersebut.
b)
Pengajuan
pertnyaan (Questioning)
Pada
langkah kedua ini guru mengajukan suatu pertanyaan kepada siswa.
c)
Berfikir
bersama (Head Together)
Selanjutnya.
Dilangkah ini para siswa berfikir bersama untuk mengembangkan dan meyakinkan
bahwa setiap orang mengetahui jawaban tersebut.
d)
Pemberian
jawaban (Answering)
Terahir, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.
b.
Think-Pair-Share
(TPS)
Berikut
adalah beberapa langkah pada metode TPS:
a)
Langkah
pertama berfikir (Thinking), guru mengajukan pertanyaan atau isu yang
terkait dengan dengan pelajaran, dan siswa misalkan diberi dua hingga empat
menit untuk berfikir sendiri mengenai jawaban atau pertanyaan tersebut.
b)
Langkah
kedua berpasangan (Pairing), pada langkah ini guru meminta kepada siswa
untuk berpasangan dan mendiskusikannya mengenai apa yang telah difikirkan. Pada
interaksi selama periode ini siswa dapat menghasilkan jawaban bersama ketika
suatu pertanyaan telah diajukan. Biasanya pada peride ini guru memberi waktu 3
sampai 4 menit untuk berpasangan.
c) Kemudian pada langkah akhir ini berbagi (Sharing), guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini, akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
·
Pembelajaran
kooperatif (Cooperative Learning) adalah suatu pembelajaran yang
bersifat kelompok baik terdiri dari 2 orang atau lebih yang bekerja sama dan
saling membantu dalam pemahaman materi pelajaran, sehingga tercipta kebersamaan
dan kerja sama antar anggota kelompok dalam memecahkan masalah dan memahami
materi suatu pelajaran.
·
Variasi/bentuk
dari model pembelajaran kooperatif di antaranya: (a). STAD (Student Teams
Achievement Divisions), (b). Jigsaw (Tim Ahli), (c). GI (Group
Investigation), (d). NHT (Numbered Head Together) dan (e). TPS (Think
Pair Share).
·
Kelebihan
dari model pembelajaran kooperatif yakni: Memudahkan siswa melakukan
penyesuaian sosial, Memungkinkan siswa saling belajar mengenai sikap,
keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan, Memungkinkan terbentuk
dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen, Meningkatkan kepekaan dan
kesetiakawanan sosial, Menjadi acuhan bagi perkembangan keperibadian yang sehat
dan terintegrasi, Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara
hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan, Meningkatkan rasa
saling percaya kepada manusia. sedangkan kekurangan nya adalah : persiapan
pembelajaran harus secara matang, memerlukan banyak tenaga, pikiran, waktu,
fasilitas harus benar-benar mendukung, dan terkadang di dominasi oleh pendapat
dari orang-orang tertentu.
·
Implementasi
atau pelaksanaan proses pembelajaran adalah proses berlangsungnnya belajar
mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan disekolah. Jadi
pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam menyampaikan
bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bisa
dikatakan pelaksanaan pembelajaran adalah pelaksanaan setrategi-setrategi yang
telah dirancang untuk mencapai pembelajaran.
[1]Etin
Solihatin dkk, Cooperative Learning(Analisis Model Pembelajaran IPS),
(Jakarta: PT Bumi Aksara),hlm.36
[2]Nurhadi
dkk, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, (Malang: UM
Press), hlm. 61
[3]Luk
Luk Nur Mufidati, Brain Based Teaching and Learning, (Yogyakarta:
Teras),hlm. 99-100
[4]Daryanto,
Inovasi Pembelajaran Efektif, (Bandung: Yrama Widya), hlm. 401
[5]
Robert ElSlavin, Cooperative Learning Teori Riset dan Praktek, (Bandung:
Penerbit Nusa Media), hlm. 12
[6]Muhammad dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional... hlm. 294
[7]
Anissatul Mufarokah, Strategi dan Model-Model Pembelajaran, (Tulungaggung:
IAIN Tulungaggung Press),hlm.121-122
[8]Muhammad
dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan
Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional... hlm. 296
[9]
Anissatul Mufarokah, Strategi dan Model-model Pembelajaran....hlm.
124-125
[10]Muhammad
dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan
Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional... hlm. 298
[11]Abazariant.blogspot.com/2012/10/makalah-model-pembelajaran-kooperatif.html, 7/3/2016 15:44
[12]Syaiful
dan Aswan, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm.
56
[13]Muhammad dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional, (Maguwoharjo: Ar-Ruzz Media), hlm. 291
[14] Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm. 36
[15] http://www.muniryusuf.com/implementasi-kurikulum-dalam-model-pembelajaran-kooperatif.html 07/03/2016 09:55
[16] Anissatul Mufarokah, Strategi dan Model-model Pembelajaran.(Tulungagung:IAIN Tulungagung Press), hlm.126
[17] Eduadventure.blogspot.com/2012/05moodel-pembelajaran-kooperatif-jigsaw.html, 8/3/2016 11:20
[1]Fariz
Alniezar, Jangan Membonsai Ajaran Islam, (Jakarta: PT Gramedia), hlm. 49
[2]Cucu
Suhana, Konsep Setrategi Pembelajaran, (Bandung: PT Refika Aditama),
hlm. 37
[3]Luk
Luk Nur Mufidati, Brain Based Teaching and Learning, (Yogyakarta:
Teras), hlm. 99-100
[4]Sugiyanto,
Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Surakarta: Yuma Pustaka), hlm. 35
Mad Thabi’i Mad Wajib Muttashil Mad Jaiz Munfashil
Pengertian Mad Thabi’i Definisi mad secara bahasa adalah tambah. Menurut ulama ahli tajwid adalah memanjangkan suara huruf yang wajib dipa...