Monday, March 1, 2021

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING)

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Hidup akan dikatakan bermakna jika setiap gerak dalam hidup kita senantiasa bermanfaat bagi orang lain dan bagi kita sendiri. Tidak menyia-nyiakan waktu, mampu  memaksimalkan potensi diri, mampu membedakan antara yang haq dan yang batil, pandai mensyukuri nikmat yang diterima.

Manusia adalah makhluk yang terhebat, mempunyai keistimewaan yang terletak pada kemampuan berfikirnya sebagai manusia yang berbudaya.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Bersosial merupakan suatu pekejaan yang sangat penting untuk kelangsungan hidup. Manusia harus bekerja sama dengan orang lain, saling menolong dan saling membantu. Tanpa adanya kerja sama, kehidupan ini akan punah. Dalam firman Allah QS. Al-Maidah: 2:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوانِ

“...dan tolong-menolonglah kamu sekalian dalam hal kebaikan dan ketakwaan, jangan kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan...” (QS. Al-Maidah: 2)

Berbuat baik terhadap sesama adalah wujud nyata dari kesalehan sosial, yaitu kesalehan yang menyangkut diri pribadi dengan pribadi yang lain dalam sebuah lingkungan tertentu. Muslim yang baik adalah mereka yang antara kesalehan ritual dan juga kesalehan sosialnya berimbang secara proposional[1].

Akhir-akhir ini sering adanya peristiwa-peristiwa yang sangat menyedihkan karena sudah terkikisnya rasa humanisme. Selain mudahnya terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan baik yang dilakukan secara perorangan maupun secara berkelompok, saat ini juga sudah maraknya peristiwa acuh tak acuh dan tidak peduli terhadap orang lain. Tindakan kekerasan dan tradisi tidak mempedulikan orang lain ini merupakan cermin dari sikap arogansi, merasa paling benar dan ketidak mampuan untuk mensinergikan berbagai perbedaan yang ada disekitar kita.

Dari peristiwa-peristiwa yang dipaparkan diatas, salah satunya dapat disebabkan oleh model pendidikan  yang kurang memberikan ruang bagi anak didik untuk saling menghargai dan saling berkerja sama. Sekolah sebagai salah satu bagian dari pendidikan harus mampu mendidik peserta didiknya agar menjadi anak yang mempunyai rasa humanis dan mempunyai rasa perduli terhadap orang lain.

Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif. Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar peserta didik, dan gaya mengajar guru[2].

Dalam hal ini, model pembelajaran memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh peserta didik dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi pendidik untuk menjadikan kegiatan pembelajaran dikelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap peserta didik anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran . dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu  teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran[3].

Pembelajaran koomperatif  juga diartikan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar[4].

Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerja sama dalam kelompok.

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, kami dapat mengambil beberapa rumusan masalah, yakni:

1.      Bagaimana pengertian pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)?

2.      Bagaimana variasi/bentuk model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)?

3.      Apa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)?

Bagaimana implementasi pembelajaran kooperatif di dalam kelas?


C.    Tujuan Pembahasan

1.      Untuk mengetahui pengertian dari model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).

2.      Untuk mengetahui berbagai variasi/bentuk dari model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).

3.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning).

4.      Untuk mengetahui tentang implementasi model pembelajaran kooperatif yang di terapkan di dalam kelas.

PEMBAHASAN 

A.    PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama daalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat di pengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Cooperative learning dapat di artikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan di antara sesama anggota kelompok[1].

  Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa) untuk menghindari ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Hasil belajar yang diperoleh dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya berupa nilai-nilai moral dan budi pekerti berupa rasa tanggung jawab pribadi, rasa saling menghargai, saling membutuhkan, saling memberi, dan saling menghormati keberadaan orang lain disekitar kita[2].

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap peserta didik anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu  teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran[3]. Selanjutnya, menurut Johnson dan Johnson (Isjoni dan Ismail 2008: 152), pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara kelompok-kelompok kecil. Siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang berkelompok, sama dengan pengalaman individu maupun kelompok.

Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif. Sebab, peserta didik akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan dan penciptaan kerja dalam kelompok dan berbagai pengetahuan serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran[4].

Dengan demikian pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang menyangkut tehnik pengelompokan yang didalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama pada kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang. Pembelajaran kooperatif dirancang berdasarkan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial. Karena satu sama lain saling membutuhkan, dan dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru.

B.     PEMBAGIAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Model pembelajaran merupakan salah satu langkah awal yang harus direncanakan didalam proses belajar mengajar secara keseluruhan. Menurut Arends dalam bukunya Hurhadi, 2004: 64-67, ada 4 macam model pembelajaran kooperatif, yaitu: STAD (Student Teams Achievement Divisions), Jigsaw, Group Investigation, dan struktural.

1.      STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu macam pembelajaran kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran, guna mencapai prestasi yang maksimal.

STAD telah digunakan dalam berbagai mata pelajaran yang ada, mulai dari matematika, bahasa, seni, sampai dengan ilmu sosial dan ilmu pengetahuan ilmiah lain, dan telah digunakan mulai dari siswa kelas dua sampai perguruan tinggi. Metode ini paling sesuai untuk mengajarkan bidang studi yang sudah terdefinisikan dengan jelas, seperti matematika, berhitung dan studi terapan dan lain-lain[5].

Metode STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan rekan-rekannya dai Universitas John Hopkins. Metode ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana. Dalam metode ini terdiri dari lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor perbaikan individual, dan penghargaan tim[6].

2.      Jigsaw

Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Unversitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling mebantu dalam menguasai materi pelajaran dengan jigsaw, yakni adanya kelompok asal dan kelompok ahli dalam kegiatan belajar mengajar.

3.      GI (Group Investigation)

Dalam metode GI ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan. Dasar-dasar metode GI ini dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya diperluas dan diperbaiki oleh sharan dan kawan-kawannya dari Universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Pendekatan ini memiliki norma dan struktur kelas yang lebih rumit dari pendekatan yang lebih berpusat kepada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik[7].

4.      Struktural

Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya. Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode-metode lainnya, metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa[8].

Metode struk ini dibagi menjadi dua macam, yaitu NHT (Numbered Head Together) dan TPS (Think-Pair-Share).

a.       NHT

NHT atau penomoran berfikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa sebagai alternativ terhadap struktur kelas tradisional[9]

NHT (Numbered Head Together) dikembangkan oleh Spancer Kagan. Menurut Nurhadi (2004: 67), langkah-langkah pada metode ini adalah:

 pertama, Penomoran (Numbering), pada langkah ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan memberi mereka masing-masing nomor yang berbeda. Kedua, pengajuan pertanyaan (Questioning), langkah ke dua ini guru pengajukan pertanyaan kepada para siswa. Ketiga, berfikir bersama (Head Together), selanjutnya para siswa berfikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban tersebut. Keempat, Pemberian jawaban (Answering), terahir pada langkah ini guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

b.      Think-Pair-Share (TPS)

TPS adalah sebuah metode yang sederhana, tetapi sangat berguna yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland. Ketika guru menerangkan pelajaran didepan kelas, siswa duduk berpasangan dalam kelompoknya. Guru memberikan pertanyaan dikelas. Lalu, siswa diperintahkan untuk memikirkan jawaban, kemudian siswa berpasangan dengan masing-masing pasangannya untuk mencari kesepakatan jawaban. Terakhir guru meminta siswa untuk membagi jawaban kepada seluruh siswa di kelas[10]. Dalam metode ini dapat memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk bekerja sendiri sekaligus bekerja sama dengan teman lainnya.

C.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Melalui model pembelajaran kooperatif ini, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses pembelajaran, melainkan juga bisa belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Begitupula dalam model pembelajaran kooperatif ini juga mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar dalam kelompok-kelompok kecil.

Model pembelajaran kooperatif juga dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingannya dengan ide-ide orang lain. Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain[11].

Menurut Johnson and Johnson dalam bukunya Nurhadi, dkk, 2004: 63-64, Pentingnya pembelajaran kooperatif diterapkan dalam situasi pembelajaran dikelas karena memiliki keunggulan sebagai berikut:

1.      Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial

2.      Mengambangkan kegembiraan sejati

3.      Memungkinkan siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan

4.      Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen

5.      Meningkatkan keterampilan meta kognitif

6.      Menghilangkan sifat-sifat meentingkan diri sendiri atau egois dan egosentris

7.      Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial

8.      Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan

9.      Menjadi acuhan bagi perkembangan keperibadian yang sehat dan terintegrasi

10.  Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa

11.  Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan

12.  Mencegah terjadinya kenakalan diamasa remaja

13.  Menimbulkan perilaku rasional dimasa remaja

14.  Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan

15.  Meningkatkan rasa saling percaya kepada manusia

Siswa yang sudah terbiasa dan mengerti akan pentingnya pembelajaran kooperatif, akan menyadari bahwa dirinya mempunyai kekurangan dan kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yang positifpun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni siswa yang aktif, kreatif dan mandiri[12].

Selanjutnya, keunggulan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut[13]:

1.      Jika dilihat dari aspek siswa, keunggulan pembelajaran kooperatif adalah memberi peluang kepada siswa agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan, pengalaman yang diperoleh siswa belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah satu pandangan kelompok.

2.      Siswa dimungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan befikir maupun keterampilan sosial, seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, bekerja sama, rasa setia kawan, dan mengarungi timbulnya perilaku yang menyimpang dalam kehidupan kelas, dan siswa dapat memperoleh pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berfikir dan menentukan, serta berbuaat dan berpartisipasi sosial.

3.      Siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar karena didorong dan dudukun dari rekan sebaya.

4.      Siswa menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, kemampuan berfikir kritis, membentuk hubungan persahabatan, menimba berbagai informasi, belajar menggunakan sopan santun, meningkatkan motivasi siswa, memperbaiki sikap terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu siswa dalam menghargai pokok pikiran orang lain.

5.      Siswa yang bersama-sama bekerja dalam kelompok akan menimbulkan persahabatan yang akrab yang terbentuk dikalangan siswa. Hal ini ternyata sangat berpengaruh pada tingkah laku atau kegiatan masing-masing secara individual. Mereka lebih banyak mendapatkan kesempatan berbicara, inisiatif, menentukan pilihan, dan secara umum mengembangkan kebiasaan yang baik.

6.      Saling ketergantungan yang positif, adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu, siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, suasana kelas yang rileks dan menyenangkan, terjalinnya hubungan yang sangat dan bersahabat antara siswa dengan guru, dan memiliki banyak kesempatan untuk mengekpresikan pengalaman emosi yang menyenangkan.

Sedangkan dari segi kekurangan model pembelajaran kooperatif adalah:

1.      Guru harus mempersiapkan pembelajran secara matang, disamping itu proses pembelajaran kooperatif memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.

2.      Membutuhkan dukungan fasilitas, alat, alat dan biaya yang cukup memadai.

3.      Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas, dengan demikian, banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan

4.      Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang. Hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.

D.    IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Implementasi atau pelaksanaan proses pembelajaran adalah proses berlangsungnnya belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan disekolah. Jadi pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bisa dikatakan pelaksanaan pembelajaran adalah pelaksanaan setrategi-setrategi yang telah dirancang untuk mencapai pembelajaran[14].

Pembelajaran kooperatif lebih banyak di arahkan kepada perencanaan pelajar untuk mengelompokkan dan menyampaikan kepada tutor dan anggota kelompok pelajar yang lain atau penyempurna kegiatan. Ada dua bentuk utama pembelajaran kooperatif yang melibatkan para pelajar dalam kerja kelompok kepada:[15] (a) membantu teman pelajar yang lain untuk menguasai materi pelajaran, dan (b) menyempurnakan suatu proyek kegiatan bersama seperti laporan tulisan, presentasi, percobaan, karya seni dan lain sebagainya.

Kenyataan di atas dapat menjadi acuan bahwa untuk tercapainya tujuan kurikulum dan tujuan pendidikan pada umumnya maka pengelolaan kelas melalui pembelajaran yang lebih efektif menjadi harapan utama, dan semua itu tergantung kepada guru dalam upaya melakukan implementasi kurikulum melalui pembelajaran kooperatif.[16]

Berikut merupakan implementasi dari berbagai macam model pembelajaran kooperatif:

·         STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Langkah-langkah dalam metode ini adalah:

a.       Mula-mula bahan ajar atau materi diterangkan dulu oleh guru dikelas.

b.      Kemudian langkah selanjutnya yaitu penysunan kelompok, yang beranggotakan kurang lebih empat sampai lima orang yang bersifat hiterogen.

c.       Setelah kelompok terbentuk, kemudian tiap kelompok mendiskusikan materi atau pertanyaan yang telah terangkan oleh guru pada tahap awal lalu.

d.      Setelah guru memberi waktu untuk mendiskusikannya, kemudian para siswa dikenai kuis individual. Dalam hal ini siswa tidak diperbolehkan untuk membantu siswa lainselama kuis berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu bertanggung jawab secara individu untuk memahami materi yang diberikan.

e.       Dengan adanya kuis tersebut, setiap siswa bisa menyumbangkan poin kepada kelompoknya dalam sistem sekor.

f.       Selanjutnya kelompok akan diberi penghargaan apabila skor mereka melampaui kriteria tertentu.

·         Jigsaw

Dalam model pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw, terdapat kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Guru harus terampil dan mengetahui latar belakang setiap siswa agar terciptanya suasana yang baik bagi setiap anggota kelompok[17].

Langkah-langkah penerapan metode Jigsaw adalah sebagai berikut:

a.       Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok. Dalam pembagian kelompok sama seperti pada metode STAD. Setelah sudah membagi kelompok, guru memberti materi atau memberi suatu pertanyaan kepada tiap kelompok.

b.      Setelah anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mmpelajari materi atau pertanyaan yang diberikan oleh guru, kemudian perwakilan orang dari beberapa kelompok bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan materi yang telah diberikan oleh guru.

c.       Selanjutnya setelah kelompok baru (kelompok ahli) tersebut selesai diskusi, maka mereka kembali kekelompok asal mereka masing-masing,

d.      Dan mengajarkan atau menerangkan kepada anggotanya mengenai bahan atau materi yang telah didiskusikan di kelompok ahli tadi.

e.       Selanjutnya guru mengevaluasi siswa secara individu mengenai materi yang telah dipelajari.

·         GI (Group Investigation)

Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomuikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Langkah-langkah dalam metode ini adalah:

a.       Petama yaitu seleksi topik.

Dalam hal ini guru bisa terlebih dahulu membagi siswa dalam beberapa kelompok, misalnya beranggotakan dua hingga enam orang setiap kelompok. Dan selanjutnya tiap kelompok memilih berbagai sub topik dalam suatu masalah yang telah digambarkan oleh guru.

b.      Setelah sudah memilih sub topik yang telah digambarkan oleh guru, siswa dan guru merencanakan kerja sama, tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan sub topik yang telah mereka pilih.

c.       Para siswa melaksanakan rencana yang telah mereka rumuskan, dan guru secara terus menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

d.      Pada tahap selanjutnya, siswa menganalisis dan mensintesiskan berbagai informasi yang telah diperoleh pada tahap pelaksanaan yang mereka rumuskan tadi, dan merencanakan agar materi yang telah mereka rumuskan tadi dapat diringkas dalam suatu penyajian yang baik.

e.       Selanjutnya, semua kelompok menyajikan hasil akhir dalam bentuk presentasi.

f.       Terakhir guru mengevaluasi siswa atas pekerjaan yang telah mereka selesaikan. 

·         Struktural

Pada metode ini dibagi menjadi dua, yaitu:

a.       NHT

Langkah-langkahnya adalah:

a)      Penomoran (Numbering)

Langkah pertama guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan misalnya tiga hingga lima orang. kemudian memberi nomor yang berbeda-beda kepada tiap siswa dalam kelompok tersebut.

b)      Pengajuan pertnyaan (Questioning)

Pada langkah kedua ini guru mengajukan suatu pertanyaan kepada siswa.

c)      Berfikir bersama (Head Together)

Selanjutnya. Dilangkah ini para siswa berfikir bersama untuk mengembangkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban tersebut.

d)     Pemberian jawaban (Answering)

Terahir, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

b.      Think-Pair-Share (TPS)

Berikut adalah beberapa langkah pada metode TPS:

a)      Langkah pertama berfikir (Thinking), guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan dengan pelajaran, dan siswa misalkan diberi dua hingga empat menit untuk berfikir sendiri mengenai jawaban atau pertanyaan tersebut.

b)      Langkah kedua berpasangan (Pairing), pada langkah ini guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikannya mengenai apa yang telah difikirkan. Pada interaksi selama periode ini siswa dapat menghasilkan jawaban bersama ketika suatu pertanyaan telah diajukan. Biasanya pada peride ini guru memberi waktu 3 sampai 4 menit untuk berpasangan.

c)      Kemudian pada langkah akhir ini berbagi (Sharing), guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini, akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain.


BAB IV

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

·         Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah suatu pembelajaran yang bersifat kelompok baik terdiri dari 2 orang atau lebih yang bekerja sama dan saling membantu dalam pemahaman materi pelajaran, sehingga tercipta kebersamaan dan kerja sama antar anggota kelompok dalam memecahkan masalah dan memahami materi suatu  pelajaran.

·         Variasi/bentuk dari model pembelajaran kooperatif di antaranya: (a). STAD (Student Teams Achievement Divisions), (b). Jigsaw (Tim Ahli), (c). GI (Group Investigation), (d). NHT (Numbered Head Together) dan (e). TPS (Think Pair Share).

·         Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif yakni: Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, Memungkinkan siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan, Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen, Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial, Menjadi acuhan bagi perkembangan keperibadian yang sehat dan terintegrasi, Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan, Meningkatkan rasa saling percaya kepada manusia. sedangkan kekurangan nya adalah : persiapan pembelajaran harus secara matang, memerlukan banyak tenaga, pikiran, waktu, fasilitas harus benar-benar mendukung, dan terkadang di dominasi oleh pendapat dari orang-orang tertentu.

·         Implementasi atau pelaksanaan proses pembelajaran adalah proses berlangsungnnya belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan disekolah. Jadi pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bisa dikatakan pelaksanaan pembelajaran adalah pelaksanaan setrategi-setrategi yang telah dirancang untuk mencapai pembelajaran.



[1]Etin Solihatin dkk, Cooperative Learning(Analisis Model Pembelajaran IPS), (Jakarta: PT Bumi Aksara),hlm.36

[2]Nurhadi dkk, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK, (Malang: UM Press), hlm. 61

[3]Luk Luk Nur Mufidati, Brain Based Teaching and Learning, (Yogyakarta: Teras),hlm. 99-100

[4]Daryanto, Inovasi Pembelajaran Efektif, (Bandung: Yrama Widya), hlm. 401

[5] Robert ElSlavin, Cooperative Learning Teori Riset dan Praktek, (Bandung: Penerbit Nusa Media), hlm. 12

[6]Muhammad dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional... hlm. 294

[7] Anissatul Mufarokah, Strategi dan Model-Model Pembelajaran, (Tulungaggung: IAIN Tulungaggung Press),hlm.121-122

[8]Muhammad dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional... hlm. 296

[9] Anissatul Mufarokah, Strategi dan Model-model Pembelajaran....hlm. 124-125

[10]Muhammad dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional... hlm. 298

[11]Abazariant.blogspot.com/2012/10/makalah-model-pembelajaran-kooperatif.html, 7/3/2016 15:44

[12]Syaiful dan Aswan, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm. 56

[13]Muhammad dan Arif, Belajar dan Pembelajaran Pembelajaran Pengenbangan Wacana Dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional, (Maguwoharjo: Ar-Ruzz Media), hlm. 291

[14] Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm. 36

[16] Anissatul Mufarokah, Strategi dan Model-model Pembelajaran.(Tulungagung:IAIN Tulungagung Press), hlm.126

[17] Eduadventure.blogspot.com/2012/05moodel-pembelajaran-kooperatif-jigsaw.html, 8/3/2016 11:20



[1]Fariz Alniezar, Jangan Membonsai Ajaran Islam, (Jakarta: PT Gramedia), hlm. 49

[2]Cucu Suhana, Konsep Setrategi Pembelajaran, (Bandung: PT Refika Aditama), hlm. 37

[3]Luk Luk Nur Mufidati, Brain Based Teaching and Learning, (Yogyakarta: Teras), hlm. 99-100

[4]Sugiyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (Surakarta: Yuma Pustaka), hlm. 35

Mad Thabi’i Mad Wajib Muttashil Mad Jaiz Munfashil

Pengertian Mad Thabi’i   Definisi mad secara bahasa adalah tambah. Menurut ulama ahli tajwid adalah memanjangkan suara huruf yang wajib dipa...