A. Biografi
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 57 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia pernah mengikuti kuliah di ITB, namun kemudian mundur untuk meneruskan karier di dunia seni yang lebih disenanginya. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo". Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.[1]
Pendidikan Sujiwo
Tejo sejak kecil yakni, SDN Kecamatan Mangaran (1974), SMPN Kec. Asem Bagus
(1977), SMAN Situbondo (1980), ITB Jurusan Matematika (sarjana muda), ITB
Jurusan Teknik Sipil (tidak lulus). Terlahir dari Ayah: Soetedjo, Ibu: Soelastri, Istri: Rosa Nurbaiti, Anak:
Rembulan Randu Dahlia, Kennya Rizki Rionce, Jagat.[2]
Penjelaskan tersebut dapat disimpulkan bahwa Sujiwo Tejo memiliki
keunikan yaitu dengan menghindari pola hitam putih, atau dalam aksinya sebagai
dalang Ia sering melanggar pakemnya, yaitu Rahwana dibuatnya
jadi baik, Pandawa dibikinnya
tidak selalu benar. Ini sangat berbeda dengan
cerita pewayangan seperti yang ada dalam Mahabarata atau Ramayana. Hal ini
tidak heran kalu ia dijuluki dalang edan. Selain itu dengan cara ini Tejo
beroptimistis bahwa wayang dapat disukai anak-anak muda.
Kuliah di jurusan Matematika masuk tahun 1980 dan
jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, hasrat berkesenian Sujiwo
mulai berkembang. Saat itu Sujiwo Tejo menjadi penyiar radio kampus, main
teater, dan mendirikan Ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. Sujiwo Tejo
juga menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan
Jawa di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981-1983 dan pernah membuat
hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi tahun 1983.[3]
Dengan bakat yang dimilikinya sejak kecil, membuat beliau memiliki hasrat berkesenian yang tinggi. Sehingga menjadikannya Ia orang yang terkenal saat ini.
B.
Faktor yang Mempengaruhi
J. Haryadi dalam blog Kompasiana menjelaskan bahwa Sujiwo Tejo
adalah pria yang memiliki segudang atribut yaitu sebagai penyanyi, aktor,
penulis, pemusik, dalang, dan sutradara
ini dikenal sebagai pribadi yang hangat, tetapi selalu blak-blakan kalau
berbicara. Pengetahuannya luas, terutama kalau berbicara tentang manusia dan
kehidupan sosialnya. Tidak heran kalau beliau dijuluki pula sebagai seorang
budayawan.[1]
Dalam bukunya yang berjudul Lupa Endonesia
dijelaskan bahwa, Sujiwo Tejo lahir di Desa Ambulu, jember, Jawa Timur, 31
Agustus 1962. Bakat mendalang diwarisinya dari sang ayah, yaitu Soetedjo.[2]
Juga dijelakan bahwa Hidup di
lingkungan seni yang kuat membuat jiwa Sujiwo
Tejo pun terpengaruh. Bahkan sejak masih kanak-kanak beliau sudah belajar
mendalang wayang kulit di kampungnya. Kemudian beliau juga mulai mencipta
sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan
judul Semar Mesem (1994).[3]
Selain itu juga ada yang mengatakan melalui tulisan yang di publikasikan lewat blognya, Menginjak tahun ketiga kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), barulah ia jatuh cinta pada wayang dan gamelan. Begitu mendengar siaran radio Jawa pada suatu malam, ia tersadar bahwa karawitan itu rumit, gamelan itu memiliki struktur yang luar biasa. Seniornya di ITB, Iskandar Sumowiloto, mengajarinya bermain gamelan dan mendalang. Karena fondasi sudah aku miliki, enggak sampai seminggu aku sudah bisa, tuturnya. Sejak itu, ia pun mendalang. Cara Iskandar mendalang membuat Tejo optimistis. Beda dengan cara mendalang sang ayahnya, ia melihat bahwa bagi Iskandar, Pandawa tidak selalu benar, Rahwana malah baik, Sinta menjadi sangat manusiawi. Tejo jadi yakin wayang bisa disenangi anak muda, karena tidak hitam putih lagi. “Itu yang sekarang aku bawain di Global Jaya, di sekolah-sekolah”, ujarnya. Sewaktu ulang tahun PDI sebelum kerusuhan 27 Juli, Tejo mendalang disaksikan Megawati, ketua umum PDIP yang kemudian jadi presiden. Betapa senang hati Tejo, Iskandar bersedia datang ikut menyaksikannya.[4]
Tidak dapat dipungkiri selain dari bakatnya yang dimilikinya, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya sehingga menjadinkannya seperti sekarang ini. Mulai pengaruh dari orang tuanya hingga pengaruh seniornya yang ada saat dikampusnya dulu. Bahkan sampai saat ini jiwa Sujiwo hidup di lingkungan seni yang kuat membuat Ia menjadi lebih aktif untuk berkarya.
C.
Karya-Karyanya
Menurut Sujiwo Tejo menulis buku tetap menjadi bagian yang
konstitusional dari pekerjaan mendalang. Untuk dapat memanggungkan lakon
wayang, seorang dalang setidaknya mesti menguasai dasar-dasar seni rupa, musik,
akting, dan sastra. Menulis buku bagi Sujiwo Tejo yang dikenal sebagai dalang
edan ini adalah berpentas melalui salah satu unsur pedalangan: sastra.[1]
Diantara Buku-buku karyanya adalah:[2]
1. Kelakar Madura
buat Gus Dur (Yogyakarta, Lotus, 2001)
2. Dalang Edan (Aksara Karunia, 2002)
3. The Sax (Eksotika Karmawibhangga
Indonesia, 2003)
4. Ngawur Karena
Benar (Penerbit
Imania, Februari, 2012)
5. Jiwo Jancuk (GagasMedia, Juni 2012)
6. Lupa Endonesa (Bentang, September 2012)
7. Republik
Jancukers (Kompas,
Desember 2012)
8. Dalang Galau
Ngetwit (Imania,
Februari 2013)
9. Kang Mbok:
Sketsa Kehidupan Sri Teddy Rusdy (Komunitas Bambu, Desember 2013)
10. Lupa Endonesa
Deui (Bentang Pustaka, Januari
2014)
11. Rahvayana 'Aku Lala Padamu' (Bentang Pustaka, Mei 2014)
Selain menulis buku dan mendalang, Sujiwo Tejo juga menjadi aktor filem, bahkan pernah menjadi sutradara, ada pula karyanya yang berupa musik, lukisan-lukisan yang memiliki makna tersendiri. Entah lukisan tersebut dicorehkan di kertas maupun di kain.
D.
Karakteristik
Selain dijuluki
dalang edan karena mendalang dengan tidak sesuai pakemnya agar wauang dapat
diterima oleh para pemuda-pemuda, Sujiwo Tejo juga memiliki beberapa
karakteristik lainnya. Misalkan cara berpakaiannya yang sederhana, mengenakan
sarung dan topi koboynya. Selain itu
Tejo juga masih memegang eerat ajaran budaya, yakni sebelum pagelaran wayang Ia
berpuasa dulu, bahkan yang menanggap juga dianjurkan berpuaasa.
Hal ini seperti
yang dijelaskan dalam Blog bahwa sebagaimana
yang berlaku pada dalang tradisional, Tejo tak bisa meninggalkan puasa sebelum
pentas. Ia biasanya puasa tiga hari. Ia juga mensyaratkan penanggap untuk ikut
berpuasa, termasuk kepada Megawati, Ratih Sanggarwati, dan budayawan Goenawan
Mohamad.[1]
Dalam bukunya yang berjudul Rahvayana Aku Lala Padamu tertlis, “Aku
pun merasa relaks, Sinta. Aku merasa bisa mengutarakan banyak hal. Padahal, itu
baru perkenalan sekaligus pertemuan pertama. Kita tak telepon-teleponan lebih
dulu. Tak SMS-an, BBM-an, dan email-email-an lebih dulu. Tak ada. Tahu-tahu
ketemu. Tahu-tahu kenalan. Tahu-tahu aku sudah relaks ngobrol panjang lebar
denganmu yang sudah berganti baju tanpa bra. Ya, tanpa bra. Betul kan Sinta?
Aku lihat jelas kok, sembulan puting susumu pada T-shirt-mu…. Heuheuheu…”[2]
Dapat dilihat bawa Tejo dalam menceritakan wayangnya juga memadukan
antara tradisional yang dikemas dengan kemodernan. Hal ini bermaksud agar
diharapkan cerita wayang tidak hanya mengenai cerita-cerita terdahulu, tetapi
bisa dipadukan dengan kemoderenan saat ini.
Seperi yang dijelaskan oleh Diki Febriantoa dan Purwati Anggraini dalam jurnalnya, bahwa perkembangan teknologi ditandai dengan inovasi-inovasi yang berkembang, alat komunikasi yang canggih, dan media komunikasi yang beragam. Kutipan di atas sebagai bukti, bahwa pada novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo, sebagai bentuk perwakilan pewayangan tradisional dikemas dengan modern. Interaksi yang komunikatif ditunjukan dengan setiap adegan cerita di dalam novel. Dengan menggunakan alat komunikasi dan benda yang menunjuk keapad T-shirt yang berada pada era modern ini, lebih menjadikan suatu pewayangan hidup di zaman ini juga, dan dapat menjadikan masyarakat milenial menjadi mudah melestarikan kebudayaan pewayangan.[3]
E.
Analisis
Pria yang kerap disapa Presiden Jancukers itu juga merupakan
seseorang yang dikenal sebagai dalang. Dikenal juga sebagai pelukis bahkan
pemusik, serta pula dikenal sebagai budayawan. Ciri khasnya yang selalu memakai
topi koboy dan memakai sarung saat manggung samapai saat ini masih terlihat. Keinginannya
mengangkat budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar
kesenian Indonesia merujuk pada budaya tradisional tapi diolah dengan cara yang
kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Hal ini dilakukannya karena banyak
anak-anak muda sekarang yang tidakmenyikai, bahkan tidak mengerti tentang
budaya Indonesia. Seperti contoh pewayangan.
Dengan adanya budayawan seperti ini, yang dapat mendesain, atau mengolah
cerita pewayangan dengan keadaan modern saaat ini menjadikan bahwa budaya
Indonesia itu tidak hanya hitam putih, atau hanya itu-itu saja. Akan tetapi
dapat disampaikan dengan cara yang variatif dan baru. Dengan pendekatan ini,
Indonesia akan dapat dikenali juga sebagai negara yang memiliki seni dan budaya
yang modern.
Ada beberapa perbedaan dari latar belakang Tejo dengan budayawan
lainnya. Misalkan dengan Emha Ainun Najib, perbedaan tersebut terletak pada
latar belakang mereka. Yang satu dari pondok pesantren, dan yang satunya lagi
dari keluarga yang juga budayawan atau kesenian. Dan ini juga yang menyebabkan
kadang pendapat-pendapat Tejo terkesan liar dan tidak mematuhi peraturan.
Dalam pemahaman Sujiwo Tejo bahwa kesenian dalang itu lengkap.
Sebelum bisa pentas, dalang mesti menguasai seni rupa untuk menggambar wayang,
seni sastra untuk menyiapkan cerita dan seni musik untuk menata lagu. Dalang
itu mesti memiliki banyak kemmampuan.
[1]APA DAN SIAP TEMPO, Sujiwo Tejo....., diakses pada tanggal 04 Desember 2019, pukul 20.30.
[2]Sujiwo Tejo, Rahvayana
Aku Lala Padamu, (Yogyakarta: Penerbit Bintang,2018), hal. 13.
[3]Diki Febriantoa
dan Purwati Anggraini, “Representasi Pewayangan Modern: Kajian Antropologi
Sastra dalam Novel Rahvayana Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo”, Jurnal Kajian
Sastra, ISSN: 2089 2926, Volume 8 (1), 12—25, Jurusan FKIP Universitas
Muhammadiyah, Malang, dalam file pdf, hal. 17.
[1]Sujiwo Tejo, Lupa Endonesia..., hal. 340.
[2]Wikipedia
Ensikopedia Bebas, Sujiwo Tejo..., diakses pada tanggal 03 Desember
2019, pukul 14.30.
[1]J.
Haryadi, Sujiwo
Tejo, Rela Meninggalkan ITB Demi Berkarir di Bidang Seni,
https://www.kompasiana.com/jumariharyadi/57ce07876423bdcf79e21cc2/sujiwo-tejo-rela-meninggalkan-itb-demi-berkarir-di-bidang-seni?page=all. diakses pada tanggal 03 Desember 2019, pukul 14.30.
[2]Sujiwo Tejo, Lupa
Endonesia Deui, (Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2013), hal. 340.
[3]J. Haryadi, Sujiwo Tejo, Rela Meninggalkan..., diakses pada tanggal 03 Desember 2019, pukul 14.30.
[4]APA DAN SIAP TEMPO, Sujiwo Tejo....., diakses pada tanggal 04 Desember 2019, pukul 20.30.
[1]Wikipedia
Ensikopedia Bebas, Sujiwo Tejo, https://id.wikipedia.org/wiki/Sujiwo_Tejo#Buku, diakses pada
tanggal 03 Desember 2019, pukul 14.30.
[2]APA DAN SIAP
TEMPO, Sujiwo Tejo, https://ahmad.web.id/sites/apa_dan_siapa_tempo/profil/S/20030701-26-S_1.html, diakses pada
tanggal 04 Desember 2019, pukul 20.30.
[3]Wikipedia
Ensikopedia Bebas, Sujiwo Tejo..., diakses pada tanggal 03 Desember
2019, pukul 14.30.

No comments:
Post a Comment